Bersih di Alam

Dari dulu saya tidak pernah tertarik bergabung dengan kelompok pecinta alam manapun, alasannya mudah: kelihatannya terlalu kerja keras dan ada sesuatu dengan anak-anak pecinta alam yang membuat saya menyeringai antara geli dan kasihan. Jangan tanya kenapa.

Saya CINTA alam, bahkan sampai-sampai yakin bahwa alam adalah perpanjangan tangan Tuhan di bumi: tidak bisa diprediksi, tidak bisa dilawan, mematikan, membuat banyak orang ketakutan sehingga memilih bersembunyi dalam kenyamanan beton bertulang dengan jarak radius aman dari ‘alam mentah’. Yang paling penting dari alam: kata-kata tidak ada artinya, hanya sekadar bunyi. Alam membuat kita manusia jadi bertanya betulkah kita adalah super predator yang ada di rantai teratas siklus kehidupan? Bagi makhluk sosial yang bawaannya manipulatif, alam mengenolkan manusia. NOL. Pergi menjauh dari kota dan kembali ke alam bagi saya rasanya seperti pengalaman naik haji: sadar bahwa manusia itu keciiiiiilllllll sekali dan kembali ingat yang disebut pasrah mutlak. Kembali nol itu indah, rasanya seperti dikuras bersih.

Bicara bersih, bersih di alam itu punya definisi yang berbeda. Bersih di alam itu bukan hanya nyaman di badan, tetapi yang paling penting tidak meninggalkan limbah yang tidak bisa terurai. Alam tidak butuh suvenir dari kunjungan manusia dan manusia juga tidak perlu suvenir dari alam. Selamat, kenangan, kewarasan, dan pengetahuan baru dalam menghargai alam sudah jadi suvenir paling berharga.
Berada di alam sering artinya harus menggunakan fasilitas yang ada sekadar untuk mencuci atau ingin segar. Sungai yang dingin, airnya banyak dan tidak keruh itu godaan besar. Masalah berikutnya, apa saya tega mencelup ke dalam air dan meninggalkan polutan?

Lagi, serangga itu macam dan jumlahnya luar biasa, terutama di hutan. Anehnya, apa yang disebut wangi di kota adalah kacau di hutan. Wangi sintetis mengundang berbagai serangga untuk datang mengerubuti, tetapi saya tidak rela bau dengan kulit busik dan totol-totol karena diserang serangga, termasuk nyamuk malaria. Jadi saya memutuskan untuk mencoba mereplika alam dalam botol. Jauuuuhhh dari kesempuranaan standar yang dimiliki alam, tetapi setidaknya saya tidak lagi busik, ataupun diserang serangga sampai koreng di hutan. Bau? Maaf, itu teritori anak pecinta alam. Saya adalah peziarah alam. Bersih dan tidak bau itu wajib, karena pada akhirnya saya hanyalah mbak-mbak dari kota.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s