Penulis dan Pengarang

Saya belum cek KBBI untuk definisi dari ‘penulis’ dan ‘pengarang’. Saya hanya memiliki perasaan yang berbeda untuk definisi kedua kata tersebut, berdasarkan kata dasar ‘tulis’ dan ‘karang’. ‘Tulis’ buat saya semacam operator, dan ‘karang’ adalah suatu pekerjaan berkreasi, menggunakan imajinasi dan sungguh sulit.

Isyu ‘penulis’ dan ‘pengarang’ ini terpikir, karena orang selalu bertanya apa pekerjaan saya. Saya ingin sekali bisa menjawab: pengarang, tapi kenyataan berkata lain. Saya hanya seorang buruh tulis, kadang untuk singkatnya bisa disebut penulis atau lebih tepat lagi juru tulis. Iya, penulisan yang saya lakukan lebih berkonotasi sebagai pekerjaan seorang buruh; kerja kasar untuk senilai bayaran. Tidak ada proses berkreasi menggunakan angan-angan, melainkan proses kerja yang amat logis. Membeberkan fakta dengan lugas dan mengatur runutan agar mudah dimengerti dan jelas dibaca. Sulit? Tidak. Simak saja pelajaran Bahasa Indonesia ketika SMA, sadar tata bahasa, memiliki diksi yang baik, dan tahu sedikit banyak mengenai teori penulisan populer. Lantas mengapa semua orang bilang menulis itu susah? Jawaban sekenanya adalah: jangan jadikan satu antara mengarang dan menulis.

Dalam menulis, jika topik sudah ditentukan, maka pertama-tama yang harus dilakukan adalah membangun fondasi yang kokoh, berupa kerangka tulisan. Fondasi yang kokoh tidak akan runtuh, walaupun terjadi bongkar pasang berkali-kali. Ibaratkan rumah. Selanjutnya, masih tetap mengibaratkan rumah, bahan bangunan yang baik untuk rumah yang kokoh bisa disamakan dengan tugas riset. Riset yang fokusnya jelas dengan pranala yang bertanggung jawab, adalah bahan bangunan yang tidak mungkin disangkal. Finishing? Tanpa mengecilkan imajinasi, tetapi nilai estetika yang baik itu bawaan dari lahir yang kemudian terasah, sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan mengarang. Kalau memang dari lahir seleranya sudah melodramatik menjurus mendayu-dayu dan bisa dibilang agak kampungan, ya mau apa lagi? Setiap selera pasti ada pasarnya sendiri.

Sementara pengarang bagi saya adalah semacam pantulan Tuhan di kolam butek. Agak distorsi, tetapi tetap saja Tuhan: maha tahu dan maha pencipta. Mereka sudah tidak lagi bicara soal estetika, kecuali menyangkut tata letak dan sampul. Mereka bicara penciptaan; tinggal seberapa dalam atau dangkal penciptaan itu. Jika dangkal, lebih baik jadi bungkus kacang, daripada buang-buang bubur kertas yang dihasilkan alam. Walaupun sekali lagi dalam atau dangkal pasti ada pasarnya sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s