Nasib Taman Nasional di Indonesia

Taman Nasional adalah sebuah ide pelestarian yang pertama kali muncul pada tahun 1872 dengan diresmikannya Yellowstone National Park, di Amerika Serikat. Hampir satu abad sebelumnya, pada 1778, pemeritah Mongolia sebenarnya sudah menerapkan hal serupa di Gunung Bogd Khan (Uul), sebelah selatan Ulanbataar. Walaupun motivasi awal Amerika Serikat, maupun Mongolia agak berbeda, tetapi eksekusinya sama, yaitu “perlindungan” – melindungi flora fauna serta meniadakan kegiatan perburuan dan pengambilan hasil vegetasi. Jika Mongolia melakukan konservasi karena alasan Genghis Khan pernah tinggal di sana sehingga daerah itu harus dilindungi agar tetap suci untuk kebutuhan ziarah, Amerika Serikat melakukannya karena Taman Nasional dipandang perlu untuk rekreasi masyarakat.

Seiring dengan perkembangan zaman, definisi istilah “Taman Nasional” semakin jelas, antara lain harus memiliki (1) luas minimal 10.000.000 meter persegi atau 1000 hektar, (2) memiliki ekosistem yang belum terjamah manusia – flora dan fauna masih asli bisa dijadikan obyek pembelajaran ilmiah, edukasi, dan rekreasi. Disebabkan tujuan utama dari sebuah Taman Nasional adalah “pelestarian”, maka peraturan ketat harus diterapkan bahkan untuk sekadar masuk hanya sampai tepi luar area Taman Nasional.

manusela-03

Indonesia memiliki sekitar 52 Taman Nasional, baik darat maupun bawah air (laut). Sebuah angka yang rendah, jika dibandingkan dengan negara-negara di benua Asia lainnya seperti Thailand (138), Cina (208), India (102), Israel (69), bahkan Filipina (54) padahal teritori Indonesia cukup luas. Dari 52 Taman Nasional itu, kelihatannya tidak ada seorang pun yang tahu pasti bagaimana statusnya. Taman Nasional Bukit Barisan, telak-telak memiliki status “terancam” yang membuat para penjaga Leuser, Kerinci Seblat, Tesso Nilo dan lain-lain berteriak-teriak minta diperhatikan karena konflik tidak habis-habis mengancam kelestarian hutannya. Taman Nasional Laut Taka Bone Rate, sejauh isi tanki oksigen penyelam memang masih ada ikan dan karang walaupun daerah lainnya sudah berupa lapangan golf bawah laut dan sepi ikan. Taman Nasional Pulau Komodo, komodonya masih lebih banyak di Pulau Rinca. Singkatnya, banyak Taman Nasional di Indonesia memiliki status: lelucon.

Bila kerusakan alam di dunia dipetakan, maka hampir seluruh wilayah Indonesia termasuk dalam “biodiversity hotspot”. ‘Keanekaragaman hayati’ atau biodiversity adalah suatu istilah yang mulai gencar digunakan pada tahun ’80-an, mengacu pada “berbagai jenis makhluk hidup selain manusia, baik dalam tingkat genetik, spesies, maupun ekosistem” terutama dalam konteks pelestarian atau konservasi. Keanekaragaman hayati di dunia ini tidak tersebar rata, daerah dengan tingkat kenekaragaman hayati yang paling tinggi kebanyakan berada di sepanjang garis khatulistiwa.

Saat ini keanekaragaman hayati di dunia merosot, padahal sebagai manusia kita amat bergantung pada keseimbangan alam yang baik secara langsung maupun tidak langsung telah “menyediakan jasa penyediaan” makanan, air bersih, dan obat-obatan. Indonesia sebagai salah satu negara yang berada di garis khatulistiwa, memiliki keanekaragaman hayati yang amat berlimpah, tetapi amat disayangkan hal ini harus dibarengi dengan tingkat ancaman yang tinggi pula (biodiversity hotspots).

Di dunia saat ini ada 35 biodiversity hostspots. Apa sebenarnya kualifikasi biodiversity hostspots? (1) Memiliki tingkat endemisitas tanaman 0,5% dari kurang lebih total 300.000 jenis tanaman yang ada di dunia. (2) Sudah mengalami kepunahan setidaknya 70% dari vegetasi primer. Dengan kriteria itu, Indonesia memiliki dua biodiversity hostspots: Paparan Sunda dan Wallacea. Paparan Sunda mencakup Semenanjung Malaka, Sumatera, Jawa, Kalimantan, Madura, Bali dan pulau-pulau kecil sekitarnya. Wallacea adalah daerah kepulauan yang memisahkan Paparan Sunda dengan Paparan Sahul, tercakup di dalamnya Sulawesi, Nusa Tenggara dan Maluku. Bukankah itu dapat dibilang artinya hampir mencakup seluruh negara Indonesia? Sekarang dapat dibayangkan kondisi taman nasional-taman nasional yang ada di daerah-daerah tersebut….

manusela-02

Sudah menjadi pengetahuan semua orang bahwa berbagai jenis flora fauna yang ada di Paparan Sunda kondisinya memprihatinkan akibat ledakan industri berbasis hasil hutan, perluasan lahan perkebunan yang mengambil area hutan, dan permintaan pasar akan satwa eksotik yang dipercaya mujarab untuk kesehatan. Wilayah Wallacea nasibnya juga akan segera menyusul Paparan Sunda jika tidak segera diambil langkah-langkah pelestarian. Padahal wilayah yang ukurannya termasuk kecil ini memiliki tingkat endemisitas burung nomor dua di dunia setelah Tropical Andes (Amerika Selatan) yang wilayahnya lima kali lebih luas.

Seperti dapat dilihat pada peta di atas, hampir seluruh Indonesia berwarna merah: memiliki potensi alam berlimpah yang semuanya terancam kepunahan. Apakah hal ini bisa dihindari dan diperbaiki? Jawabannya ‘amat sulit’. Jumlah penduduk terus meningkat (Keluarga Berencana mana?), perut lapar yang harus diberi makan makin banyak. Kapan ada waktu untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga alam? Ketika perut lapar, konservasi adalah suatu konsep gaya hidup mewah.

Catatan:

  1. Foto oleh Suherina Nimpoeno.
  2. Grafis oleh Rumiko.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s