Sawendui: Hutan Penyangga Cagar Alam

Sawendui dalam bahasa lokal berarti “sungai kecil dan dermaga” adalah sebuah kampung di Distrik Raimbawi dengan luas daerah setidaknya seperempat dari seluruh 19.000 ha luas Distrik Raimbawi. Menjadikan Sawendui sebagai daerah konservasi cukup penting, karena sebagai satu-satunya dusun di distrik tersebut yang masih memiliki hutan hujan tropis primer yang cukup luas dan lokasinya sebagai hutan penyangga bagi Cagar Alam Pegunungan Yapen Tengah.

Walaupun hanya dihuni kurang dari 50 orang tetapi kearifan lokal akan alam adalah salah satu hal yang membuat daerah ini masih memiliki kekayaan alam bisa dibilang utuh. Sudah menjadi perjanjian tidak tertulis di antara masyarakat lokal bahwa satu kilometer dari batas hutan terluar ke dalam tidak akan dijamah, sehingga bisa dikatakan sepanjang 12 kilometer dengan lebar satu kilometer di sepanjang pesisir Sawendui merupakan sabuk hijau yang amat berharga. Kekayaan habitat inilah yang menjadi penyebab utama mengapa beberapa spesies hewan yang hampir punah menjadikannya tempat berlindung.

Setidaknya ada tujuh sub-spesies aves di Yapen menggunakan istilah “jobiensis” dalam taksonomi Latin. Sejak 2012 SPF telah mencatat 130 spesies burung dari 50 suku dan hampir separuhnya merupakan hewan yang harus dilindungi. Burung endemik Papua tidak ditemukan, tetapi 28 spesies sub-endemik pulau Yapen berhasil dicatat antara lain, Walik Lunggung (Ptilinopus coronulatus geminus), Perkici Pelangi (Trichoglossus haematodus berauensis) dan Cendrawasih Kecil (Paradisaea minor jobiensis). Daerah ini ini memang terkenal dengan empat spesies Paradisaea: Manukodia jobi (Manucodia jobiensis), Cendrawasih raja (Cicinnurus regius), Cendrawasih belah-rotan (Cicinnurus magnificus) dan Cendrawasih Kecil (Paradisaea minor).

Beberapa burung dari suku ini memang dikenal di dunia karena keindahan ekor burung jantannya yang mendorong salah satu pelopor teori evolusi kondang, Alfred Russel Wallace, untuk mencoba berlayar ke Jobi (Yapen) ketika melakukan penelitian di Singapura, Malaysia dan Indonesia. Di dalam The Malay Archipelago yang dapat disebut sebagai salah satu jurnal ilmu pengetahuan terbaik di abad 19, ia menuliskan kondisi laut yang ganas telah menghalanginya untuk berlayar sampai ke Jobi, tetapi tidak menghentikannya untuk mendapatkan burung Cendrawasih Kecil keindahannya diungkapkan sebagai berikut:

[…] di negeri dengan penduduk seperti itu ditemukan hewan yang luar biasa. Di hutan liar, mereka memamerkan keindahan dan jurai cantik ekornya yang sungguh memukau untuk manusia-manusia yang paling beradab dan intelek di dunia. Jika sehelai bulunya saja sudah begitu molek, bayangkan burungnya yang pasti sungguh makhluk mempesona […]

spf-20

Selain itu Yapen juga memiliki beberapa hewan endemik, seperti: Kalong Jobi, Kelelawar Anjing Jobi, dan Tikus Jobi yang ditemukan tahun 1933, 1902, dan 1935. Baru-baru ini para ahli sekarang menambahkan bahwa Yapen juga memiliki ikan air tawar dan herpetofauna yang endemik.

Di Sawendui ada kisah yang menarik mengenai adanya sapi liar, yang berawal dari hewan ternak. Akhir 1960-an, seorang pahlawan dianugerahi 12 ekor sapi oleh pemerintah, dan ketika ia meninggal jumlah di 1970-an sapinya sudah mencapai ratusan ekor. Sapi-sapi ini kemudian menjadi hama di desa Sawendui Lama dan Inggrisau yang pada akhirnya membuat seluruh penduduk mengungsi mengosongkan desa. Lokasi tempat sapi ini kemudian sempat menjadi area perburuan. Setelah sering diburu, hewan ini melarikan diri ke hutan yang kemudian mengubah perilakunya kembali menjadi satwa liar. Sekarang, rombongan sapi liar ini dapat dibilang tidak lagi turun ke kampung. Menurut survey yang diadakan SPF, keberadaan hewan ini sulit dilihat; dari jejak dan kotoran yang ditemukan hanya dapat menjadi indikasi ukuran dan kebiasaan, tetapi tidak dapat menentukan besarnya populasi hewan ini.

Ditemukan juga hidup di tengah penduduk kampung adalah kuskus (Spilocuscus maculatus) yang dulunya sering menjadi hewan peliharaan yang siap dikonsumsi ketika dewasa, walaupun praktek ini sekarang sudah berhenti. Kangguru pohon juga merupakan hewan khas Papua yang populasinya cukup besar di Sawendui, walaupun dibutuhkan kesabaran untuk dapat melihat hewan malam yang pemalu ini. Penelitian yang lebih mendalam mengenai berbagai jenis fauna di Sawendui memang belum dilakukan, karena saat ini Cendrawasih Kecil dan penyu yang keberadaannya sangat terancam menjadi fokus dari program pelestarian SPF.

CATATAN: Tulisan ini dibuat bersama dengan Saireri Paradise Foundation (SPF), sebuah yayasan yang bergerak di bidang sosial dan lingkungan berfokus pada pembangunan komunitas yang sadar akan gaya hidup bersahabat dengan alam. Sejak 2012 bersama-sama dengan masyarakat lokal, SPF telah menjalankan program perlindungan dan pelestarian hutan dan laut, dan di saat yang bersamaan juga menjalankan program kemasyarakatan yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s