Pesisir Sawendui: Pantai Pilihan Penyu

Pesisir Sawendui terdiri dari pantai Mambasiui (pasir putih) dan Inggrisau (pasir hitam) yang merupakan pantai peneluran empat jenis penyu. Dari tujuh jenis penyu laut yang ada di dunia, empat jenis dapat ditemukan di sini” Penyu Hijau (Chelonia midas), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea), dan Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea). Penyu kebanyakan berada di laut lepas dan mereka menyukai pantai berpasir halus yang sedikit ditumbuhi tanaman pantai sebagai lokasi bertelur; kedua pantai di Sawendui ini termasuk dari golongan tersebut.

Sebagai salah satu satwa di dunia yang keberadaanya sudah mulai terancam, penyu berada di semua perairan kecuali Kutub. Tidak aneh jika hewan ini merupakan salah satu hewan yang paling sering disebut-sebut di berbagai kebudayaan mulai dari Cina sampai Indian yang percaya bahwa bumi ini berada di atas tempurung penyu. Hewan ini juga merupakan hewan yang paling sering diburu karena dagingnya yang gurih, telurnya sebagai sumber protein, ataupun tempurungnya yang dapat dijadikan barang-barang kecantikan. Setelah berabad-abad diburu, hewan ini sekarang dalam kondisi terancam kepunahan.

Hal yang sama juga terjadi di Sawendui, penyu merupakan salah satu sumber makanan bagi penduduk. Walaupun, ada legenda yang mengatakan bahwa Penyu Belimbing adalah leluhur suku Runsebai. Ceritanya, dahulu leluhur suku Runsebai pernah mengganggu seekor Penyu Belimbing (Inserai) yang sedang bertelur dan kemudian lengannya terjepit di antara kaki sang penyu sampai terbawa jauh ke laut. Cucunya sempat melihat ia melambaikan kelima jarinya dua kali yang kemudian diartikan bahwa dalam sepuluh hari ia akan kembali. Setelah menanti selama sepuluh hari, penduduk desa menanti di pantai, tetapi leluhur mereka tidak kembali, malah mereka menemukan sebentuk batu yang berbentuk Penyu Belimbing.

Sampai sekarang masih banyak yang percaya batu yang disebut “imbeuri” itu bertuah. Jika batu itu dalam kondisi terkubur pasir, berarti penyu tidak akan naik untuk bertelur. Maka harus ada penduduk desa yang ‘berkomunikasi’ dengan batu tersebut agar ombak datang menyapu pasir yang menguburnya, dan penyu pun akan kembali naik untuk bertelur di pantai Inggrisau.

Dari dua pantai peneluran penyu yang ada di Sawendui, sarang penyu lebih banyak ditemukan di Inggrisau. Dilihat dari tantangan yang ada, pantai Inggrisau sebenarnya memiliki tantangan yang lebih banyak karena berada dalam rute jalur masyarakat desa dan juga mengalami abrasi yang cukup hebat. Waktu yang paling tepat untuk mengawasi penyu bertelur adalah di sepanjang pantai Inggrisau pukul 9 malam sampai 3 dini hari antara Maret – Juli.

CATATAN: Tulisan ini dibuat bersama dengan Saireri Paradise Foundation (SPF), sebuah yayasan yang bergerak di bidang sosial dan lingkungan berfokus pada pembangunan komunitas yang sadar akan gaya hidup bersahabat dengan alam. Sejak 2012 bersama-sama dengan masyarakat lokal, SPF telah menjalankan program perlindungan dan pelestarian hutan dan laut, dan di saat yang bersamaan juga menjalankan program kemasyarakatan yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s