Museum BI Kota: Menapak Rentang Waktu

Tutur sejarah kehidupan perekonomian Indonesia memang sudah sepantasnya bernaung di dalam gedung yang merupakan saksi mati rentang waktu sejarah. Ini adalah keberuntungan tidak ternilai yang menjadikan Bank Indonesia dan museumnya begitu istimewa. Gedung Bank Indonesia Kota sebagai pernaungan Museum Bank Indonesia, ibarat ‘koleksi di dalam koleksi’, baik cangkang maupun isinya sama-sama memiliki nilai sejarah luar biasa.

museumbi-04

Gedung Bank Indonesia di Kota adalah ‘gedung bercerita’. Sepetak tanah ini dahulu merupakan lahan bangunan Binnenhospitaal, rumah sakit VOC yang dibangun pada 1643. Setelah berkali-kali berpindah tangan, pada akhirnya 5 Mei 1830 De Javasche Bank sebagai bank sirkulasi kolonial Belanda memutuskan membeli setelah sebelumnya dua tahun mengontrak lahan yang sama.

Gejolak politik, sosial, budaya dan ekonomi baik dunia maupun lokal telah mendorong perkembangan De Javasche Bank menjadi bank swasta terpenting di Hindia Belanda. Tidak kurang lima kali perombakan dan perbaikan terhadap gedung bangunan bekas rumah sakit ini dilakukan, sampai akhirnya pada 1909 De Javasche Bank merasa perlu memiliki kantor yang dapat mencerminkan posisi penting mereka. Architecten Bureau Ed Cuypers en Hulswit yang kemudian bergabung dengan Fermont menjadi biro arsitek yang dipercaya membangun kantor baru ini. Pada waktu ulang tahun De Javasche Bank ke-100 pada 1929, kantor baru ini telah selesai dengan wajah yang tidak jauh berbeda seperti yang kita lihat sekarang ini.

Dalam pencitraan De Javasche Bank melalui gedung, Cuypers, Hulswit en Fermont dari luar mengaplikasikan kesan berwibawa sekaligus introvert seakan-akan melindungi apa yang ada di dalamnya (tidak aneh mengingat jumlah emas yang ada di dalamnya). Tetapi, begitu masuk ke dalam maka suasana formal dan akomodatif langsung terasa melalui langit-langit yang tinggi dan garis-garis lengkung yang mendominasi bel etage.

Walaupun penampilan luar yang jika dilihat sekilas agak mirip dengan Place de La Concorde karena adanya unsur neo-klasik, tetapi jika diperhatikan seksama ternyata pilar-pilar yang ada di luar dihiasi kapital yang ukirannya diambil dari candi-candi yang ada di Indonesia. Perkawinan gaya antara neo-klasik dan unsur lokal ini mengundang kritikan cukup keras dari para arsitek Belanda yang datang ke Hindia Belanda waktu itu, karena dianggap ‘asal tempel’.

P.A.J Moojen yang membangun Kuntskring, menulis dalam “Bouwkunst” Weekblad voor Indië (1907), no.2, sebagai berikut:

[…] Tiruan neo-hellenisme yang amat buruk karena tidak berjiwa; contoh tiruan buruk yang amat menyedihkan. Bidang-bidang putih yang mencerminkan selera buruk dan ketidakmampuan dalam berkarya […]

Dalam sejarah kearsitekturan, saat gedung De Javasche Bank dirancang memang sedang timbul polemik mengenai “arsitektur Hindia Belanda yang otentik” itu seperti apa. Kelompok para arsitek baru yang datang ke Hindia Belanda rata-rata dipengaruhi Nieuw Kunst (New Art). Mereka beranggapan bangunan yang dibangun dengan unsur neo-klasik yang kental sama sekali tidak otentik. Sebagai ‘jawaban’ dari polemik ini, bangunan-bangunan yang kemudian dibangun berkarakter lebih “modern”, seperti contohnya gedung NHM (Nederlandsche Handel Maatschappij) dan stasiun Kota.

 

CATATAN:

  1. Tulisan ini disusun bekerja sama dengan Bank Indonesia (2011) yang dalam dasawarsa terakhir menunjukkan kesadaran dan kepedulian untuk mengelola dan melestarikan warisan budaya (heritage) di Indonesia yang cukup signifikan untuk buku yang berjudul “Museum Bank Indonesia – Menapak Rentang Waktu”.
  2. Foto oleh Gunnar Nimpoeno, Gusman ‘Ojel’ Bangawan, Pinkan Veronique, dan Suherina Nimpoeno.
  3. Grafis oleh Chandra Rahmatillah, Fefria Mangkoesoebroto, dan Rumiko. 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s