Taman Nasional Manusela: Mungkinkah Tetap Lestari?

Sekarang ini hutan milik negara yang ada di Pulau Seram memiliki berbagai fungsi seperti misalnya hutan produksi dan konversi, dari hutan menjadi kebun, sekaligus juga sebagai hutan lindung dan cagar alam seperti contohnya Taman Nasional Manusela yang luasnya kurang lebih 10% dari luas seluruh daratan yang ada di Seram. Oleh karena itu sebagian besar kehidupan rakyat yang masih bergantung pada tanaman, juga sangat bergantung pada kebijakan pemerintah dalam pengelolaan tanah.

Ketergantungan masyarakat terhadap hutan juga masih tinggi. Masyarakat di sekitar Taman Nasional masih beranggapan hutan adalah suatu “tempat” yang tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga atau biaya untuk diurus dan apa yang dihasilkan oleh hutan seperti hewan liar, buah-buahan, dan hasil tumbuhan lainnya dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ditambah lagi lokasi hutan yang berdekatan dengan desa, merupakan faktor kemudahan lainnya. Berbagai tanaman yang ada di hutan seperti misalnya bambu dan rotan banyak digunakan untuk membuat alat-alat rumah tangga. Selain itu di hutan juga dapat ditemukan berbagai macam batu, pasir, dan kayu untuk berbagai pekerjaan konstruksi. Hutan juga masih menjadi sumber untuk kayu bakar, obat-obatan, dan berbagai jenis kayu dengan nilai jual yang cukup tinggi. Singkat kata, keberadaan hutan masih amat dekat dengan masyarakat.

Yang kemudian menjadi masalah besar adalah ketika hutan tidak lagi sekadar hanya untuk memenuhi kegiatan masyarakat sehari-hari, tetapi mulai masuknya kepentingan luar dengan jumlah permintaan yang amat tinggi. Sehingga didatangkanlah alat-alat berat agar dapat mengeruk hasil hutan lebih banyak lagi dalam waktu singkat, selain itu perburuan satwa liar seperti burung pun makin menjadi karena harga jualnya yang amat tinggi.

Tidak hanya itu, program transmigrasi yang sebenarnya memiliki nilai positif, tetapi karena perencanaan yang asal saja, juga menjadi salah satu pemicu kerusakan hutan. Juga terjadi di sekitar Manusela, di mana banyak kampung transmigrasi yang terbengkalai akibat para transmigran tidak mampu bertahan. Akhirnya mereka terpaksa menjarah hutan untuk bertahan hidup atau untuk sekadar ongkos pulang kampung.

manusela-04

Tanpa diiringi kesadaran masyarakat dalam melestarikan lingkungan, maka hutan yang selama ini begitu dekat dengan masyarakat dan sekaligus sebagai salah satu habitat yang menjaga keseimbangan alam dari berbagai bencana seperti tanah longsor, banjir badang, ataupun erosi akan segera habis.

Menjaga kelestarian alam semesta dan isinya sama sekali tidak memiliki imbas negatif, bahkan jika dilakukan dengan terencana dan tulus akan memberikan hasil yang jauh lebih besar dari yang diperkirakan. Pulau Seram, terutama Taman Nasional Manusela dan daerah-daerah yang ada di sekitarnya merupakan potensi alam yang amat luar biasa. Amat disayangkan jika kelestariannya tidak terjaga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s