Menjadi Ibu Kota: Djakarta Melangkah Besar

Jakarta, kota terbesar di Indonesia tahun 2017 ini genap berusia 500 tahun. Jika menurut usianya, maka sejarah kota ini dimulai ketika Fatahillah memukul mundur pasukan Portugis dan dia menamakannya Jayakarta. Kemudian saat diduduki Belanda mereka menyebutnya Batavia. Ketika pendudukan Jepang yang seumur jagung, kota ini menjadi Jakarta. Sampai pada akhirnya berdasarkan Undang-undang No. 10 tahun 1964,  Bangsa Indonesia memutuskan untuk menempatkan Jakarta di panggung tertinggi sebagai ibu kota negara Republik Indonesia. Oleh sebab itu sudah menjadi kewajiban Jakarta untuk melengkapi diri dan memiliki semua fasilitas sebuah ibu kota yang bisa disebut metropolitan.

Perubahan wajah Jakarta dari sebuah kampung besar yang daerahnya terdiri dari wilayah tinggal tanpa fasilitas infrastruktur yang memadai mulai berubah perlahan tapi pasti di awal ’50-an ketika untuk pertama kalinya Pemerintah Daerah berencana membuat master plan pembangunan dan pengembangan kota Jakarta. Seiring dengan peresmian outline plan di tahun 1957 berbagai fasilitas perkotaan modern yang sudah direncanakan jauh-jauh hari sebelumnya, seperti pembangunan daerah Pluit, pengadaan air di Pejompongan, Jalan Raya Tanjung Priok-Cilincing (By Pass), Masjid Istiqlal, Monas, dan sebuah hotel bertaraf internasional mulai serentak dibangun. (Karya Jaya, 1977)

(Keterangan gambar: Presiden Sukarno meresmikan Pembangunan Nasional Berencana, 1 Januari 1961; Pembangunan ruas jalan By Pass dua jalur, sekarang Jl. Gatot Subroto; Polisi lalu lintas sebagai traffic light)

Puncaknya terjadi di awal tahun ’60-an, ketika Jakarta bersiap-siap menjadi tuan rumah Asian Games IV dan kemudian Presiden Sukarno di tahun 1961 mencanangkan Pembangunan Nasional Semesta Berencana. Sebenarnya saat itu Jakarta sedang dalam kondisi sulit, karena di tahun 1959 akibat kemarau berkepanjangan si jago merah membakar Jakarta sampai 67 kali dan di tahun 1960 setidaknya tujuh Kelurahan terendam air akibat hujan yang tidak ada habis-habisnya. (Karya Jaya, 1977)

Kondisi sulit ini tidak menghalangi Jakarta untuk menjadi tuan rumah Asian Games IV dengan terus menambah berbagai fasilitas, mulai dari Kompleks Olah Raga Senayan, membangun – melengkapi – memperbaiki jalan-jalan ibu kota, dan mempercepat menyelesaikan pembangunan sebuah hotel bertaraf internasional yang pantas menjadi sarana akomodasi para tamu yang datang ke ibu kota. Sebuah hotel yang bukan saja indah, tetapi juga mampu mengenalkan beragam budaya Indonesia dan mewakili karakter utama Bangsa Indonesia yang ramah. Singkatnya, sebuah hotel yang pantas menyandang nama: Indonesia.

hi_bab_1_2-3

(Keterangan gambar: Presiden Sukarno meninjau maket Monas yang dipamerkan di Gedung Pola, 15 Agustus 1962; Gubernur DCI (Daerah Chusus Ibukota) Soemarno meninjau pameran di Gedung Pola, 1962)

Tahun 1961, pembangunan secara serentak dilaksanakan di seluruh penjuru Jakarta. Ketika Jakarta menggeliat, maka gunung pun bergeser, bumi bergerak, sungai membelah dan bangunan-bangunan monumental pun berdiri. Pembangunan yang jor-joran seperti itu bukannya tidak mengundang reaksi dari banyak pihak, tetapi seperti yang diungkapkan Sumarno, Gubernur Jakarta yang kala itu menjabat, dalam tulisannya mengenang 450 tahun kota Jakarta:

[…] Pada waktu itu fasilitas perkotaan modern mulai dibangun, seperti Hotel Indonesia, Wisma Warta, jalan yang berkwalitas baik, yakni Jakarta By-Pass, Tugu Nasional, sejumlah patung dibeberapa tempat, dan tentunya fasilitas olah raga di Senayan sendiri. Diwaktu itu kita biasa memandangnya sebagai hal-hal yang monumental, meskipun sebenarnya yang dibangun adalah hal-hal yang biasa saja, yang memang merupakan persyaratan yang normal bagi sesuatu Ibukota Negara. Terhadap pebangunan dizaman itu tentu banyak orang yang tidak setuju, yang menganggapnya sebagai barang mubazir. Tetapi sekarang ini, setelah Jakarta benar-benar dibangun sebagai kota Metropolitan, kami melihat bahwa makin banyak pihak yang mulai sadar, bahwa hal-hal yang dulu dianggap mubazir itu sebenarnya adalah hal-hal yang wajar saja dan pada intinya merupakan awal dari “stedebouw” modern di Indonesia […] (Karya Jaya, 1977)

Pembangunan Jakarta dengan skala yang demikian besar itu sudah tentu menyerap dana luar biasa dan Presiden Sukarno dengan luwes meyakinkan berbagai pihak, baik yang kala itu dicap sebagai negara Blok Barat ataupun Blok Timur untuk ikut membantu pendanaan pembangunan, ditambah lagi hasil pampasan perang dari pihak Jepang dan usaha-usaha lainnya.

CATATAN: Tulisan ini ditulis dalam rangka penyusunan buku “Elegance, Beauty, Influence: Pesona, Kemegahan, dan Kharisma Hotel Indonesia”, kerjasama antara Grand Indonesia dan Red and White Publishing.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s