Museum BI Kota: Koleksi Numismatik dan Ruang Bersejarah

Koleksi Numismatik
Numismatik adalah ilmu yang mempelajari tentang uang dan sejarah uang. Sejak sebelum masa kerajaan Hindu-Buddha, perdagangan di Nusantara telah meggunakan alat pembayaran yang bisa diterima secara umum. Mulanya alat pembayaran masih sangat sederhana, seperti kulit kerang, manik-manik atau belincung (semacam kapak batu). Pada masa kerajaan Hindu-Buddha, alat pembayaran tersebut mengalami kemajuan, terutama dari bahan dan desainnya. Mata uang tertua terbuat dari emas (abad 9) yang berasal dari kerajaan Mataram (Hindu) dan disebut uang Ma. Sementara itu pada abad ke-14, uang Kampua beredar. Uang ini berasal dari kerajaan Buton (Ratu Bulawambona) terbuat dari kain tenun yang khusus ditenun oleh putri raja, nilainya setara 1 butir telur. Majapahit meninggalkan uang Gobog dan kerajaan-kerajaan Islam sesudahnya, seperti Samudra Pasai, Aceh, Jambi, Palembang, Banten, dan Sumenep juga mengeluarkan mata uang yang pada umumnya bertuliskan Arab. Uang-uang kerajaan ini juga beredar seiring dengan kedatangan bangsa barat ke Nusantara dan bahkan bisa dipertukarkan dengan mata uang asing.

VOC (1602–1799) yang mendominasi perdagangan Nusantara berusaha mengganti semua mata uang asing yang beredar di Nusantara dengan mencetak uang Real Belanda menggantikan Real Spanyol yang populer. Selain itu, uang perak Belanda, Rijksdaalder, dijadikan alat pembayaran standar di Nusantara. Ketika zaman Hindia Belanda, muncul desakan kuat dari kalangan pengusaha agar segera didirikan lembaga bank guna memenuhi kepentingan bisnis mereka. Terutama untuk fasilitas pendanaan dan perdagangan luar negeri. Tahun 1828 De Javasche Bank resmi berdiri dan diberi izin untuk mengeluarkan dan mengedarkan uang kertas bank dengan nilai lima gulden ke atas.

Sejarah uang rupiah pasca kemerdekaan adalah catatan panjang. Dalam masa tersebut diwarnai dengan beredarnya lebih dari satu jenis mata uang. Setelah kemerdekaan, Indonesia belum bisa segera mencetak mata uang sendiri, karena keterbatasan dana dan tenaga ahli. Akhirnya Pemerintah menerbitkan ORI (Oeang Repoeblik Indonesia) yang mulai diedarkan pada Oktober 1946. Walaupun peredaran ORI tersendat karena diedarkan secara gerilya, tapi terbukti mampu membangkitkan rasa solidaritas dan nasionalisme rakyat Indonesia. Pada 1953, untuk pertama kalinya beredar uang kertas Bank Indonesia. Uang ini disiapkan bersamaan dengan penyusunan undang-undang bank sentral, dan dicetak di percetakan Thomas De La Rue & Co, Inggris, serta percetakan Johan Enschede en Zonen, Imp, Belanda. Sedangkan NV Pertjetakan Kebajoran mencetak sebagian pecahan Rp 10 dan Rp 25.

Kondisi perang bukan satu-satunya alasan diterbitkan dan diedarkannya uang ‘daerah’. Di Kepulauan Riau dan di Irian Barat contohnya. Rupiah Kepulauan Riau (KR Rp) diterbitkan untuk mengatasi maraknya peredaran Dollar Malaya, dan ditarik kembali peredarannya pada tahun 1964. Di Irian Barat diterbitkan dan diedarkan rupiah Irian Barat (IB Rp) untuk menggantikan Gulden yang berlaku sebelumnya, dan IB Rp ditarik pada tahun 1971. Guna mewujudkan kesatuan moneter di seluruh wilayah Republik Indonesia, akhirnya pada tanggal 13 Desember 1965 diterbitkan uang rupiah baru sebagai alat pembayaran yang sah di seluruh wilayah Republik Indonesia, dengan perbandingan Rp 1 Baru = Rp 1000 Lama. Dengan dikeluarkannya Undang-Undang tahun 1968 tentang Bank Sentral, Bank Indonesia menjadi satu- satunya lembaga yang memiliki hak tunggal untuk mengeluarkan dan mengedarkan uang kertas dan uang logam sampai sekarang.

Ruang Hijau
Pada masa akhir De Javasche Bank hingga kemudian menjadi kantor Bank Indonesia, Ruang Hijau tidak lagi berfungsi sebagai ruang rapat direksi tetapi sebagai ruang kerja administrasi pusat atau Afdelling Centrale Administratie sampai dengan tahun 1960-an.

Ruang Bersejarah
Ruangan ini merupakan ruangan tempat para pemegang kekuasaan dari De Javasche Bank dan Bank Indonesia mengeluarkan keputusan/kebijakan-kebijakan penting. Bank Indonesia juga masih mempertahankan Ruang kerja Mr. Syafruddin Prawiranegara sebagai Presiden terakhir De Javasche Bank sekaligus Gubernur pertama Bank Indonesia dan Ruang Rapat Direksi dengan furniture yang digunakan pada masa itu.

CATATAN: Tulisan ini disusun bekerja sama dengan Bank Indonesia (2011) yang dalam dasawarsa terakhir menunjukkan kesadaran dan kepedulian untuk mengelola dan melestarikan warisan budaya (heritage) di Indonesia yang cukup signifikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s