Sukarno: Jakarta Membutuhkan Orang Keras Kepala

Pada 28 April 1966, Presiden Sukarno melantik Mayjen TNI (KKO) Ali Sadikin sebagai Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya. Sebelumnya ia menjabat sebagai Menteri Koordinator Kompartemen Maritim merangkap Menteri Perhubungan Laut dalam Kabinet Dwikora 1964, dan berikutnya Deputi Perdana Menteri Urusan Ekuin Sri Sultan Hamengkubuwono IX dalam Kabinet Dwikora yang Disempurnakan.

Banyak alasan mengapa Presiden Sukarno memilih Ali Sadikin dan sedikit banyak ia mengungkapkannya dalam pidato pelantikan. Ali Sadikin dengan latar belakang Marinir dianggap cocok untuk Jakarta sebagai kota pelabuhan, karena untuk dapat membangun Jakarta memang dibutuhkan orang yang een beetje koppig (sedikit keras kepala, Bld). Ditambah dengan istrinya, Ibu Nani, yang luwes, pasangan ini dianggap mampu menghadapi para anggota korps diplomatik yang semua berdiam di ibukota.

Saat Ali Sadikin dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta, jumlah penduduk sudah mencapai kurang lebih lima juta jiwa. Cukup padat apalagi mengingat kebersihan, ketertiban, dan fasilitas umum masih amat belum memadai untuk sebuah ibukota negara. Sementara Presiden Sukarno memiliki harapan bahwa Jakarta bisa menjadi kebanggaan bangsa Indonesia, sekaligus meraih status kota metropolitan setara dengan ibukota banyak negara di dunia. Tugas berat ini jatuh di pundak Ali Sadikin.

ali-dan-soekarno

Dalam menjalankan tugasnya, Ali Sadikin dikenal keras dan tegas, lengkap dengan aturan beserta sanksinya. Sepak terjangnya berbeda dengan para gubernur atau walikota Jakarta sebelumnya. Bang Ali, sebutan itu kemudian menjadi populer kala ia menjadi gubernur, banyak mengambil langkah-langkah yang dianggap kontroversial pada saat itu. Akan tetapi kemudian terbukti bahwa keputusan berani yang diambilnya itu efektif, sehingga tidak sedikit daerah lain yang meniru.

Anggaran Belanja Rp 66 juta

Jakarta Raya sejak kemerdekaan hingga dekade ’60-an sudah menyandang beban sebagai Ibukota Republik Indonesia[1]. Presiden Sukarno dalam visinya, menempatkan Jakarta sebagai wajah atau etalase bagi Indonesia yang sudah mulai ia rintis sejak Jakarta mempersiapkan diri menjadi tuan rumah Asian Games/Ganefo. Mengubah wajah Jakarta bukanlah pekerjaan yang mudah. 30 Maret 1950, jabatan Walikota Jakarta dipegang Suwiryo yang memprioritaskan penataan kepemilikan tanah yang tidak keruan sejak masa pendudukan Jepang (1942-1945). Setelah setahun menjadi walikota, Suwiryo digantikan Syamsurijal yang secara perlahan mulai menata infrastruktur kota, seperti misalnya pengadaan air minum dan listrik.

November 1953, Syamsurijal digantikan oleh Sudiro yang berusaha menata kembali administrasi Kotapraja yang sebagian besar masih tumpang tindih dengan kewenangan Pemerintah Pusat. Pada era Sudiro ini muncul ide untuk mendapatkan bagian dari penjualan bensin di Jakarta sebesar satu sen, namun ditolak. Padahal Jakarta memerlukan banyak dana untuk membangun sementara subsidi dari Pusat sangat sedikit. Ketika diajukan lagi permintaan agar Jalan M.H. Thamrin dijadikan tol, ide tersebut ditolak oleh DPRD, dan usulan memungut airport tax pun tidak disetujui Menteri Perekonomian karena dianggap dapat mengganggu ekonomi. Gagasan untuk membangun kasino di Kepulauan Seribu pun ditentang.

Dapat dibayangkan betapa sulitnya mengumpulkan dana untuk pembangunan Jakarta. Ditambah lagi pada masa itu Sudiro sudah mulai ada gagasan untuk pemugaran gedung-gedung peninggalan Belanda. Dengan segala daya upaya, Sudiro berhasil mendapatkan kembali Gedung Joang Menteng 31 untuk dipugar semampunya, sementara usaha untuk mendapatkan gedung-gedung bersejarah lainnya kandas akibat tidak adanya dana yang mencukupi[2]. Di masa Walikota Sudiro ini pula sudah dirintis upaya meningkatkan pariwisata di Jakarta melalui para pegiat swasta yang bernaung di dalam organisasi Rintis Wisata yang anggotanya antara lain adalah Prof. Dr. Hendarmin, Harris, Sumanang S.H., Ir. Danunegoro, dan lain-lain[3].

Kesulitan dana untuk membangun Jakarta juga dialami Mayjen TNI dr. Soemarno sebagai pengganti Sudiro. Soemarno berusaha membersihkan Jakarta dari sampah, membangun sejumlah kompleks perumahan, dan mencoba menambah kas daerah melalui Lotto. Ide itu kembali ditentang habis-habisan oleh sejumlah partai sehingga tidak bisa terlaksana. Henk Ngantung yang berlatar belakang seniman lukis kemudian menggantikan Soemarno dengan harapan ia dapat mempercantik wajah Jakarta, tetapi ia tidak lama menduduki jabatan sebagai gubernur, sampai akhirnya Henk Ngantung digantikan Ali Sadikin.

Pada hari pertamanya sebagai Gubernur, Ali Sadikin langsung mengadakan tanya jawab dengan pejabat teras Pemprov DKI, antara lain dengan Sekertaris Daerah, Djumadjitin Sastrapradja, S.H., dan para Wakil Gubernur: dr. Suwondo, H. Sapi’ie, Prajogo, dan Laksamana Muda (U) Wiriadinata. Setelah tanya jawab tersebut berlangsung beberapa saat, akhirnya tibalah pada topik keuangan.

“Bagaimana keuangan kita? Berapa yang ada sekarang? Berapa yang kita terima dari Pusat? Berapa anggaran belanja DKI?” tanya Bang Ali pada H. Sapi’ie sebagai kepala pejabat di bidang keuangan.

“Enam puluh enam juta rupiah, Pak,” jawab H. Sapi’ie.

“Berapa?” tanya Bang Ali seakan tidak mempercayai pendengarannya.

“Ya, segitu Rp 66 juta,” sekali lagi H. Sapi’ie menjawab. Bang Ali pun terhenyak[4].

(bersambung ke “Bang Ali: Jakarta Menggeliat Bangkit“)

 

CATATAN:

Tulisan ini disusun bersama-sama Bapak J.H. Soedarmadji Damais yang bekerja di bawah Ali Sadikin selama masa jabatannya dan terlibat langsung terutama dalam peremajaan Kota Tua.

[1] Undang-undang No. 10 Tahun 1964 mengukuhkan Jakarta sebagai Ibukota Republik Indonesia.

[2] Soebagijo I.N., Sudiro Pejuang Tanpa Henti, PT Gunung agung, Jakarta, 1981.

[3] Ibid.

[4] Ramadhan K.H., Bang Ali Demi Jakarta 1966 – 1977, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1993.

Sumber gambar:

  1. Foto Ali Sadikin
  2. Pelantikan Ali Sadikin
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s