Bang Ali: Jakarta Menggeliat Bangkit

Cara lain yang juga dipikirkan Bang Ali untuk menambah kas Pemprov adalah dengan menggiatkan pariwisata. Sebelumnya Jakarta tidak pernah menjadi kota tujuan pariwisata, karena fasilitas yang masih amat sedikit. Di pertengahan dekade ’60-an, Monas belum selesai dibangun. Pantai Ancol sudah ada, tetapi masih sangat seadanya sehingga belum bisa memberikan kontribusi berarti untuk kas Pemda. TMII sama sekali belum ada dalam pemikiran.

Jakarta pada saat itu hanya merupakan kota transit terutama untuk para turis mancanegara yang akan ke Jawa Tengah untuk melihat candi, alam pegunungan, ataupun berbagai atraksi budaya. Sungguh pendapatan daerah yang tidak sedikit dengan kedatangan turis mancanegara yang berbondong-bondong. Tetapi, Jakarta tidak punya apa-apa yang dapat menarik turis baik lokal maupun mancanegara untuk datang. Hotel bertaraf internasional pun hanya ada Hotel Indonesia yang dibangun awal dekade ’60-an. Berdasarkan pemikiran tersebut, maka Jakarta pun melengkapi diri dengan berbagai fasilitas hiburan untuk dewasa seperti kelab malam, restoran, dan hotel-hotel bertaraf internasional. Dengan dibukanya berbagai fasilitas hiburan baru ini maka terbuka berbagai jenis lapangan kerja baru sekaligus pemasukan tambahan pada kas DKI melalui pajak ataupun retribusi.

Pembangunan fasilitas-fasilitas baru yang perlahan membentuk Jakarta menjadi kota industri, niaga, jasa, dan budaya terbukti telah meningkatkan jumlah wisatawan mancanegara yang datang. Pada 1969, jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke ibukota mencapai 55.000 orang per tahun. 1970, sudah meningkat menjadi 77.000 orang, dan pada 1976 sudah mencapai 335.000 orang[1].

Angka ini masih terus meningkat yang ditunjang dengan kelengkapan Bandar Udara. Sampai 1974, Jakarta hanya memiliki satu Bandar Udara, Kemayoran, yang harus melayani baik jalur domestik maupun internasional. Sementara antara 1970 – 1976, terjadi peningkatan arus pengguna jasa penerbangan, 21% untuk internasional dan 25% untuk domestik[2]. Mengingat terbatasnya lahan Kemayoran, maka Pemerintah Pusat menjadikan Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma sebagai Bandar Udara yang juga melayani penerbangan komersil sejak 1974. Pada 1977, arus penerbangan internasional mencapai 1.124.000, domestik 2.499.000, dan transit 122.000[3]. Peningkatan hampir lima kali lipat dibandingkan statistik yang sama di tahun 1970.

Roda kehidupan di Jakarta pun mulai berputar mantap, dengan sendirinya kegiatan pariwisata juga mulai meningkat. Dari dekade ’60-an hanya ada segelintir agen wisata, yang di tahun 1074 jumlahnya sudah mejadi 17 agen wisata besar dan belasan lainnya yang kecil-kecil. Setelah Hotel Indonesia berdiri di tahun ’60-an, Jakarta juga mulai melengkapi diri dengan Hotel President, Hotel Borobudur, Hotel Kartika Plaza, dan Hotel Ashoka yang pada saat penyelenggaraan Ganefo merupakan hotel bagi para wartawan dalam dan luar negeri. Apa yang menjadi visi Gubernur Ali Sadikin dapat mengisi kas Pemprov DKI Jakarta Raya, yaitu dengan menahan wisatawan dan tidak sekadar menjadikan Jakarta kota transit, mulai terwujud.

Tetapi, sebagai seorang Gubernur sudah tentu yang menjadi prioritas utama aktivitasnya adalah melengkapi insfrastruktur warga Jakarta. Perbaikan kampung, mendirikan gedung-gedung sekolah, penghijauan, pelayanan kesehatan antara lain dengan menambah kapasitas rumah sakit, pengadaan areal pemakaman, dan masih banyak lagi. Pariwisata walaupun menambah pemasukan kas daerah yang cukup signifikan, tetapi belum sepenuhnya ditangani secara mendetil, karena masih banyak yang lebih mendesak untuk segera ditangani.

(sambungan dari “Sukarno: Jakarta Membutuhkan Orang Keras Kepala“)

 

CATATAN:

Tulisan ini disusun bersama-sama Bapak J.H. Soedarmadji Damais yang bekerja di bawah Ali Sadikin selama masa jabatannya dan terlibat langsung terutama dalam peremajaan Kota Tua.

[1] Ramadhan K.H., Bang Ali Demi Jakarta 1966 – 1977, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1993.

[2] Ralph M. Parsons, Bandar Udara Internasional Jakarta Soekarno-Hatta.

[3] Ralph M. Parsons, Bandar Udara Internasional Jakarta Soekarno-Hatta.

Sumber gambar:

  1. Gerai VW di Jakarta Fair 1974
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s