Berpesiar di Ketinggian (01): Mengapa Harus Lagi-lagi ke Cina?

(01)_Jiuzhaigou_Sichuan

Jangan tanya kenapa saya jalan-jalan. Tidak ada jawaban yang pasti dan hanya akan membuat saya merasa seperti orang debil, karena tahu saya jalan-jalan itu tanpa ada tujuan. Sudah, tidak usah juga membawa-bawa alasan membangun khazanah spiritual, karena kebijakan, kedamaian hati dan segala sesuatu yang mulia itu tidak pernah didapat dari jalan-jalan yang sudah jelas tujuannya hanya “hura-hura”.

Dilema ini sebenarnya sudah ada dari dulu, tetapi menjadi bertambah parah setelah melakukan beberapa riset amatir di pelosok dalam rangka penulisan buku non fiksi. Gara-gara riset, jalan-jalan jadi memiliki arti; ada yang harus saya cari tahu dan pertanggung jawabkan. Ada alasan penting yang memberi rasa percaya diri untuk pergi ke pelosok dan mengganggu kehidupan pribadi masyarakat lokal. Semua ini demi sesuatu yang ilmiah dan bukan lagi hanya menjadikan masyarakat lokal sebagai tontonan macam pergi ke kebun binatang, atau lebih parah lagi, saya yang jadi tontonan.

Sayangnya akhir-akhir ini, pesanan untuk meneliti dalam rangka penulisan buku makin berkurang, padahal saya ingin pergi. Pergi jalan-jalan mengejar langit yang tidak berbatas. Rindu bangun pagi dan tolah-toleh karena semua begitu asing. Rindu adalah rindu. Lama kelamaan jadi obsesi. Ingin buru-buru cabut. Pergi. Sekenanya. Seadanya. Pergi dulu, di sana bagaimana nanti. Tetapi ya itu, jika pergi tanpa ada maksud dan tujuan jelas, maka yang tertinggal hanyalah rasa bersalah.

22 tahun belakangan negara Cina selalu menjadi kambing hitam jika keinginan jalan-jalan tanpa tujuan itu muncul. Kenapa? Jawabannya mudah: perasaan bersalah tidak terlalu parah karena Cina itu tidak jauh, tidak mahal, luaaaaaaaaaasssss, menarik, alamnya beragam, rute kereta apinya menakjubkan, tidak dapat jet lag, dan yang paling penting saya tidak terintimidasi karakter-karakter kanji dan bahasa mereka. Tidak, saya tidak lancar berbicara bahasa Cina. Buruk sekali, malah. Tetapi, keasingan bahasa dan tulisan mereka tidak membuat saya panik. Karakter nasional bangsa tersebut juga kurang lebih bisa saya maklumi, walaupun sering kali tidak paham. Kata “murah” dan fakta yang berbicara bahwa negeri Cina bukanlah negara populer/keren untuk tujuan wisata warga Indonesia membuat saya selalu pergi ke Cina, alias cool factor-nya rendah.

(03)_Grassland_Tibetan Amdo_Qinghai

Maka saya pun mulai “mencari gara-gara” dengan mencari alasan kenapa kali ini lagi-lagi saya harus ke Cina? Jelas yang menjadi pertimbangan pertama adalah, daerah Cina mana yang belum pernah saya kunjungi? Di luar kepala langsung muncul satu provinsi, Xinjiang. Bawaan orok orang obsesif yang mungkin sebenarnya bisa juga dibilang serakah, dari satu provinsi terus berkembang menjadi dua provinsi: Qinghai dan Xinjiang. Lantas menjadi tiga provinsi: Xinjiang, Qinghai, Sichuan. Terakhir saya mengecek rencana perjalanan sudah jadi empat provinsi: Xinjiang, Qinghai, Sichuan, dan Gansu. Jarak yang harus ditempuh kira-kira 5143.4 km, kurang lebih sama seperti perjalanan dari Sabang sampai Merauke (5243 km). Sebenarnya ada benang merah yang merupakan daya tarik bagi saya di antara keempat provinsi tersebut, setidaknya dalam penglihatan saya yang minus 15 ini, yaitu: sejarahnya, dan alamnya.

Ada satu peraturan jika saya berjalan ke Cina, hanya mengajak satu orang yang tidak bisa berbicara bahasa Cina. Saya cukup berbicara untuk diri saya dan orang tersebut, tidak lebih. Selain itu, saya tidak punya kamera, karena kamera merepotkan. Sementara empat provinsi yang akan saya kunjungi alamnya luar biasa. Biarlah orang lain saja yang mengabadikan. Oleh karena itu saya mengajak seorang teman yang hobi fotografi serius. Dia buta soal Cina. Satu-satunya ajakan saya, ayo foto di atas 3000 mdpl. Alamnya unik.

Saya sadar sekali dengan rencana perjalanan seperti itu Provinsi Qinghai pasti akan jadi tantangan pertama. Provinsi yang dulu di dunia luar lebih dikenal dengan sebutan Mongolnya yaitu, Kokonur, merupakan provinsi yang sebagian besar terletak di Dataran Tinggi Tibet/Himalaya (untuk kebanyakan orang non-RRC) atau Dataran Tinggi Qinghai-Tibet/Qingzang (sebutan resmi pemerintah RRC). Rata-rata elevasi di Qinghai adalah 3000 mdpl lebih. Dari Taman Nasional Jiuzhaigou (titik terendah di 2000-an mdpl), perjalanan akan dilanjutkan menuju beberapa kota yang ketinggiannya semua di atas 3000 mdpl. Bicara ketinggian rata-rata di atas 3000 mdpl ibaratnya kurang lebih sama dengan lari-lari mengejar bis di Mahameru. Jangan sampai ada copet, karena baru lari 10 meter harus langsung jongkok, kehabisan nafas. Tetapi, memang ada sesuatu yang magis di ketinggian di atas 3000 mdpl, di mana rona warna alam saturasinya berkurang dan tidak lagi didominasi hijau seronok seperti di tropis. Palette warnanya puitis, dan ini menjadi salah satu hal yang membuat saya selalu mengejar ketinggian, dataran bukan gunung.

(05)_Grassland of Labrang_Qinghai

Permasalahan berikutnya, saya sendiri sebenarnya belum mencari tahu apakah ada bis lintas provinsi yang sekaligus mengunjungi tempat-tempat yang saya lihat? Saya berencana untuk melanjutkan perjalanan overland dan harus bisa tiba di Xinning, ibukota provinsi Qinghai, jika ingin terus ke provinsi Gansu dan Xinjiang. Melihat peta, jelas terlihat ada jalan yang menghubungkan tempat-tempat tersebut, melalui berbagai kota-kota tingkat kecamatan yang namanya sungguh asing di telinga, karena kebanyakan masih menggunakan kata-kata berbahasa Tibet. Qinghai memang merupakan heartland dari Tibet Amdo.

Tibet secara tradisional terbagi atas Amdo, Kham, dan Ü-Tsang; pembagian wilayahnya secara administratif modern kurang lebih adalah Amdo di Qinghai, Kham di Sichuan, dan Ü-Tsang di Tibet. Sejarah Cina yang sarat dengan perebutan kekuasaan dan wilayah yang ditandai dengan pergantian dinasti, serta intrik politik yang berkepanjangan berimbas langsung pada Tibet yang juga selalu sibuk sendiri dengan perpecahan di wilayahnya. Bahkan di abad 20, daerah Qinghai sempat menjadi pusat perjuangan suku Hui yang beragama Islam, dan tentunya setelah Revolusi Kebudayaan Mao Ze Dong, “Han-isasi” alias semua dijadikan orang Han pasti terjadi. Keingintahuan sekaligus rasa was-was pun terbit: dengan sejarah yang demikian carut-marut, akankah saya bisa melihat dan merasakan legacy dari sejarah? Apakah sekarang masih ada ketegangan di antara orang Budha Tibet, Islam, dan Han? Pantas dari peta yang saya dapatkan, daerah Qinghai yang ingin saya lewati diberi warna merah dengan keterangan: harap mencari informasi, karena teritori kadang tertutup untuk umum.

Selain status rute yang masih gurem, kelihatannya akan ada sedikit kendala lagi, yaitu: cuaca. Menurut ramalan cuaca, dari Sichuan ke Qinghai, selain naik terus di atas 3000 mdpl, suhu akan terus drop sampai di bawah nol, di beberapa bagian akan mulai turun salju atau hujan es di bulan Oktober. Saya agak khawatir karena dari pengalaman yang sudah-sudah, orang Cina terutama di pedesaan, apalagi ini teritori Tibet, sangat toleran terhadap dingin. Fasilitas penghangat amat minim dan biasanya masih tradisional.

(04)_Unfriendly Monks of Labrang_Qinghai

Dan misteri terakhir yang mungkin memiliki potensi untuk menjadi masalah adalah Provinsi Xinjiang, teritori suku minoritas Uyghur yang beragama Islam. Ketidakstabilan kondisi politik di Xinjiang cukup “populer” diberitakan di luar Cina, ditambah lagi posisinya yang berbatasan dengan negara-negara Asia Tengah, plus Pakistan. Tetapi, saya berteguh bahwa tujuan dari perjalanan ini haruslah Xinjiang, tepatnya sampai perbatasan dengan Kyrgyztan. Untung dari seorang teman saya mendapatkan kontak local organizer yang biasa menjadi local fixer untuk berbagai stasiun televisi asing.

Saya jadi bisa punya cita-cita lebih, yaitu melihat tekstil tradisional Asia Tengah, tenun ikat. Asia Tenggara, Asia Tengah, Jepang, India, Amerika Latin, dan Afrika adalah daerah-daerah yang memiliki tradisi tenun ikat. Kenapa? Apa yang membawa orang-orang yang lokasinya berjauhan secara geografis ini memiliki tradisi yang sama? Apakah Jalan Sutera penyebabnya? Bagaimana fungsionalitas tekstil ini dalam masyarakat? Mengapa Cina yang selama ini begitu über alles dengan tekstil tidak “tertular” tenun ikat padahal lokasinya bertetangga? Berbagai pertanyaan timbul di kepala yang seakan-akan menjadi motivasi saya melakukan perjalanan ini. Setidaknya pertayaan-pertanyaan ini mempunyai efek mengurangi sedikit rasa bersalah.

Untuk bekal perjalanan kali ini saya menyiapkan beberapa buku panduan perjalanan, walaupun banyak yang tahun penerbitannya kurang relevan dengan zaman modern. Untuk nanti di Xinjiang ada “Visits to High Tartary, Yarkand, and Kashgar (formerly Chinese Tratary), and Return Journey Over the Karakoram Pass” yang merupakan laporan Robert Shaw seorang penjelajah Inggris tahun 1871. Untuk Provinsi Gansu dan Qinghai yang kental dengan budaya Tibet Amdo, ada “Immortality and Reincarnation: Wisdom from the Forbidden Journey” Alexandra David-Néel yang diterbitkan pada 1961 berdasarkan perjalanannya selama kurun 1913 – 1946. Untuk tema Jalur Sutera, ada “The Travels of Marco Polo” tulisan Rustichello da Pisa berdasarkan penuturan Marco Polo sendiri di abad 13. Terakhir, untuk memberikan tambahan warna, saya bawa buku John Man mengenai Genghis Khan.

Genghis Khan jadi pilihan untuk saya baca selain karena fun, mengingat perilakunya yang “srontalan” naik kuda ke sana ke mari di alam yang tidak gampang, tetapi juga karena keempat provinsi yang akan saya datangi dahulu merupakan titik-titik strategis Mongol dalam ekspansi wilayah. Kelakuannya tidak bisa diulangi lagi di zaman sekarang walaupun peralatan sudah modern. Kesimpulan saya hanya satu, orang Mongol zaman dulu pasti berotot keras. Naik kuda dengan baju zirah sambil menenteng senjata, keduanya dari besi yang berat, naik-naik ke gunung batu atau es sampai ketinggian 6000-an mdpl demi menaklukan Asia Tengah. Setelah itu masih bisa dengan brutal menggempur dan membabat daerah-daerah yang dilewati kadang sampai penduduknya hampir habis.

Belum lagi tahun 2003 ada 23 ahli genetik yang mengadakan penelitian pada DNA orang di Eurasia. Mereka menemukan pola genetik yang sama dengan hanya sedikit perbedaan yang “memuat” varian lokal pada sekelompok lelaki yang terbagi dalam 16 grup masyarakat, tersebar dari Laut Kaspia sampai Samudra Pasifik. Total dari lelaki berpola kromosom sama ini mencapai sekitar 8% dari seluruh populasi, maka kurang lebih ada 16 juta jiwa lelaki yang secara genetik masih dapat dihitung bersaudara alias satu keluarga. Para ahli beranggapan artinya mereka memiliki leluhur yang sama, setelah diurut-urut ke belakang, penjelasan yang bisa klop dengan fakta sejarah adalah sepak terjang Mongolia waktu itu. Kesimpulan yang amat mengejutkan, bahwa seorang lelaki dari Mongol di abad 12 telah meyebarkan benih genetik di Eurasia sehingga DNA-nya sampai sekarang masih ada di satu orang dari setiap 200 lelaki Eurasia. Menuduh Genghis Khan sebagai lelaki yang bertanggung jawab menebarkan benih genetik itu sungguh tidak berlebihan, dan jangan lupa saudara dan keturunan lelakinya juga pasti memiliki pola kromosom yang sama[1]. Mereka itu dulu makan apa??? Naik kuda, perang, menebar benih genetik…. Haiya.

(06)_The Infamous Karakoram Hwy_Xinjiang

Singkatnya, jika ingin betul-betul berpikir mengapa harus ke Cina, sih? Jawabannya mungkin sekadar keterpesonaan saya pada fakta dan angka-angka. Di luar kepala, yang mungkin hanya 0.5% saja, saya dapat menyebutkan: penduduk terbanyak, salah satu kebudayaan tertua, teritori nomor tiga terluas, perkembangan ekonomi tercepat 20 tahun terakhir, selalu dapat medali emas banyak, ahli segala yang berbau akrobat dan kungfu, masakannya berada di seluruh titik ekstrim, perantaunya ada di seluruh penjuru dunia, duduk manis di Dewan Keamanan PBB, banyak yang takut, revolusi kebudayaan menumpas feodalisme, shio, dinamit/petasan, tirani, kapitalis, komunis, pemalsu nomor satu, pokoknya semua yang ngawur, aneh, ajaib, indah, enak, jelek, modern, terbelakang, sebut saja semua ada. Bagai pasar swalayan raksasa, tinggal dicari, pasti ada di Cina. Jadi Cina memang tidak akan ada habis-habisnya. Bagaimana mau habis, jika provinsi Qinghai saja luasnya 100.000 m² lebih besar dari negara Perancis dengan jumlah penduduk separuhya Jakarta?! 22 tahun, delapan kali datang, masih belum selesai juga. Jika dipikir-pikir, saya bisa seumur hidup hanya bolak-balik jalan ke Cina dan dalam negeri Indonesia saja, itu pun bisa jadi tidak selesai. Kesimpulannya, negeri Cina adalah jawaban yang tepat untuk pergi main tanpa tujuan. What’s not to love about it?

 

 

 

[1] Man, John. 2004. Genghis Khan: Life, Death, and Resurrection, p. 15–17. London. Penguin Random House.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s