Berpesiar di Ketinggian (02): Lembah Sembilan Desa

(02)_Sichuan_Highland

Setelah beberapa hari “aklimatisasi” di Chengdu, bukan terhadap ketinggian karena Chengdu hanya 700 mdpl sama seperti Bandung, tetapi penyesuaian terhadap karakter manusia-manusia RRC yang “berbeda” jika dilihat dari sudut pandang orang Indonesia; kami melanjutkan perjalanan ke Jiuzhaigou menggunakan bis. Mengetes kematangan buah alpukat salah satunya adalah dengan cara diguncang-guncang, jika bijinya sudah terlepas dari daging buah dan mengeluarkan bunyi ‘klok klok klok’, artinya buah alpukat sudah matang. Duduk di bis dengan rute berkelok-kelok naik turun gunung batu selama 10 jam, kami adalah biji alpukat. Ketika akhirnya turun, penginapan yang dituju sudah terlewat jaaaaauuuuhhhh. Bukan masalah.

RRC adalah negara dengan UNESCO World Heritage Site terbanyak nomor dua (50 situs) di dunia setelah Italia (51 situs); komposisnya 35 situs budaya, 11 situs alam, dan 4 situs gabungan alam dan budaya[1]. Dari total 11 situs alam, tidak ada satu pun yang masuk dalam kategori terancam dan Jiuzhaigou, merupakan situs alam yang berada di garda paling depan untuk pariwisata dan penelitian.

Kebetulan saya adalah turis yang mungkin karena usia, sering kikuk dengan kota besar, apalagi yang modern. Jalan-jalan itu rasanya baru betul-betul pelesir jika ketika sejauh mata memandang tidak ada potongan beton yang memapas cakrawala pandang atau sekalian langit tertutup kanopi hijau seronok. Jadi memang sudah menjadi salah satu tujuan utama dari pelesir ke Cina kali ini untuk melihat bagaimana perlakuan pemerintah RRC pada alam mereka. Kebetulan beberapa kesempatan pernah mendatangi saya sehingga bisa melakukan riset kecil-kecilan di beberapa lokasi alam mentah Indonesia. Ingin tahu, bagus mana alam Indonesia dibandingkan dengan RRC. Saya tahu dan amat sadar, ini adalah sebuah pernyataan dungu dan terlalu dini untuk diungkapkan karena iklim saja sudah tidak sama. Tetapi saya berjanji untuk tetap mencoba obyektif.

 

IMG_20160927_151000

Taman Nasional Lembah Jiuzhai memiliki luas wilayah 720 km², kurang lebih separuh dari luas Taman Nasional Ujung Kulon (1.206 km²), dan ditopang daerah penyangga seluas 600 km². Kata “Jiuzhaigou” memiliki arti “Lembah Sembilan Desa”, karena keberadaan sembilan desa di dalam area Taman Nasional. Taman nasional ini merupakan bagian dari Pegunungan Min yang berada di tepi Dataran Tinggi Tibet dan berada di dalam wilayah Keresidenan Jiuzhaigou yang termasuk Daerah Administrasi Ngawa/Aba Tibetan Qiang (Autonomous Prefecture) di bagian barat laut Provinsi Sichuan. Ada alasan kenapa saya mau repot-repot menyebutkan posisi Jiuzhaigou dalam tatanan pemerintah, disebabkan jika populasi di suatu daerah didominasi suku minoritas, maka daerah tersebut akan dinamakan sesuai dengan suku minoritas yang dominan. Jadi jelas Taman Nasional Lembah Jiuzhai berada di wilayah di mana suku minoritas Tibet dan Qiang yang mendominasi, bukan suku bangsa Han.

Dari sembilan desa yang terletak di dalam Taman Nasional, hanya tujuh yang masih berpenduduk. Sejak wilayah mereka mendapat status taman nasional, penduduk desa tidak lagi diperkenankan untuk melanjutkan kehidupan agraris karena alasan keberlanjutan ekologi. “Penggusuran” secara tidak langsung ini sudah tentu tidak menjadi berita seperti penggusuran suku Maasai dari Taman Nasional Serengeti, disebabkan baik IUCN (International Union for Conservation of Nature) yang menjadi konsultan PBB dalam masalah lingkungan dan pemerintah pusat memiliki satu suara. Sebagai gantinya masyarakat desa diberi subsidi oleh pemerintah dan diperkenankan berjualan cenderamata, makanan, dan pertunjukan kesenian bagi para turis yang datang, atau mereka memilih untuk relokasi di daerah penyangga Taman Nasional. Saya tidak tahu berapa besar subsidi yang diberikan, tetapi jika setiap harinya Taman Nasional Lembah Jiuzhai didatangi sekitar 7000 pengunjung, dan bisa mencapai 12.000 orang di musim panas, silakan hitung berapa penghasilan yang masuk baru dari penjualan tiket masuk, kurang lebih RMB 300/orang. Bukan saja kegiatan konservasi ternyata menghasilkan, tetapi kehidupan ekonomi masyarakat daerah penyangga juga ikut meningkat. Adilkah buat masyarakat? Walahuallam.

Konservasi di abad 20 memang sudah menjadi agama baru, terutama di RRC. Lahan-lahan pertanian terus berkurang akibat urbanisasi, bencana alam, dan usaha-usaha konservasi seperti rehabilitasi padang rumput (grassland replanting) dan reboisasi hutan[2]; menjadikan RRC dari 1990 – 2015 sebagai negara dengan “forest gain” terbesar, lebih dari 2 juta hektar, bersaing ketat dengan Brasilia yang “forest loss”-nya kurang lebih 2 juta hektar juga. Indonesia tentunya dengan santai menempel ketat Brasil dengan angka 1,1 juta hektar[3]. Dari angka-angka yang tertera di atas, dan apa yang saya alami dan lihat dengan mata kepala di Jiuzhaigou, saya harus berkata bahwa alam tropis Indonesia yang sejujurnya indaaaaahhhh sekali, harus menjadi kalah, disebabkan tidak terlihat adanya usaha (jikapun ada amat minimal) dari pemerintah untuk “membantu” ataupun “memaksa” rakyat memelihara lingkungan.

Menurut legenda, akibat cermin milik Dewi Semo pecah, kepingannya menjadi seratus lebih danau warna-warni yang ada di Lembah Jiuzhai. Keindahan Lembah Jiuzhai memang absurd, seperti poster picisan yang suka menghias barber-barber sekelas Madu Ratna. Sudah tentu, kami agak terkejut melihat bahwa ternyata poster-poster itu memang berdasarkan suatu tempat nyata, bukan hanya sekadar wall paper studio foto murahan. Untuk seorang fotografer, saya tahu dia bingung mau mulai dari mana. Jangankan seorang fotografer, turis amatir seperti saya saja bingung karena ingin duduk dan melongo di setiap lokasi.

IMG_20160927_130745

Pagi hari kami sudah ada di gerbang Taman Nasional, tiketnya tidak murah, tetapi semua jelas. Sebagai catatan, BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) mencantumkan harga tiket yang berbeda-beda di setiap taman nasional dengan gerbang penjualan tiket yang sering tidak pernah dijaga. Di Taman Nasional Lembah Jiuzhai hanya sekitar 13 hektar area dibuka untuk umum, selebihnya tidak diperkenankan, kecuali membayar lebih mahal lagi untuk program eco tourism di mana seorang pemandu akan membawa pengunjung hiking maksimal tiga hari sampai puncak Gunung Zha Yi Zha Ga (4528 m). Tetapi yang 13 hektar saja sudah berlebihan jika dilakoni dengan berjalan kaki, apalagi terrain-nya naik turun. Sepersepuluh dari seluruh wilayah taman nasional ini cukup untuk menjadi sample dan display keindahan alam. Ketika kaki gempor apalagi tidak diperkenankan bermalam, sulit rasanya untuk kemaruk ingin melihat yang lain. Biarlah tetap menjadi kawasan konservasi murni tanpa harus diganggu manusia.

Pada dasarnya, para pengunjung didikte oleh pihak pengelola taman nasional. Kami digiring melalui rute-rute yang bisa dilalui dengan fasilitas bis-bis shuttle ramah lingkungan ke titik-titik lokasi danau atau menyusuri jalan-jalan kayu yang total panjangnya 60 km mengelilingi taman nasional. Jalan kayu ini sengaja dirancang agar pengunjung tidak jalan ngawur di atas permukaan alam dan sekaligus menjaga agar tidak tersasar. Jalan kayu ini juga dibangun dengan cara khusus sehingga dampak pembangunannya terhadap lingkungan amat minimal. Butuh setidaknya dua hari jika ingin menyusuri keseluruhan 60 km jalan kayu ini.

IMG_20160927_145635

Hari itu satu jam pertama kami masih jalan bersama, setelah itu berpisah. Teman saya yang buta bahasa dan aksara Cina saja bisa cukup percaya diri untuk sendiri menyusuri taman nasional ini karena petunjuk jalan yang jelas. Seperti semua tempat terkenal di RRC, pilihlah waktu yang tepat daripada beresiko berbarengan dengan ribuan manusia lain. Ingat, RRC memiliki 1,5 milyar penduduk yang tidak mengerti artinya “tenang mengantri”.

Ketika matahari hampir terbenam dan gerbang akan segera ditutup, kami pun bertemu lagi di area luar gerbang. Sambil merokok, karena di dalam dilarang merokok, kami hanya bisa melihat langit dan menyesali jika saja taman nasional di Indonesia bisa dikelola sebaik, seserius, dan serapi ini, pasti rakyatnya akan lebih kenal alam, lebih mencintai, dan berpikir 1000 kali sebelum merusak.

 

 

[1] Indonesia memiliki 8 situs, 4 situs budaya dan 4 situs alam. Satu situs alam, Hutan Hujan Sumatera, termasuk dalam kategori terancam dan tampaknya akan terus terancam.

[2] FAO and Ministry of Agriculture P.R. China, 2015, COUNTRY PROGRAMMING FRAMEWORK 2012-2015 FOR PEOPLE’S REPUBLIC OF CHINA, p. 5.

[3] http://interactive.aljazeera.com/aje/2016/lungs-of-the-earth/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s